Pertobatan Ekologis, Cerminan Diri
Kata Kunci:
pertobatan, ekologis, Laudato SiAbstrak
Tepat sebulan yang lalu saya diajak rekan kerja saya ke Ancol di waktu matahari terbenam. Saat menyusuri jembatan, saya melihat ke atas dan saya takjub dengan indahnya langit yang sungguh berbalik 180o dengan apa yang saya lihat di bawah saya. Hamparan laut yang seharusnya begitu megah sirna sudah dipenuhi gumpalan-gumpalan kotoran yang menyebabkan air menjadi keruh. Saya melihat samar-samar sekumpulan ikan yang berenang di bawah air yang hitam. Apa kita mau di posisi ikan-ikan tersebut? Saya bergumam Taman Impian Jaya Ancol bukanlah impian lagi jika kondisinya seperti itu, melainkan krisis ekologi yang kita dapat.
Perbuatan manusia merusak alam menyebabkan dosa ekologis sehingga yang manusia butuhkan adalah pertobatan ekologis. Manusia seringkali tidak sadar bahwa dosa bukan hanya perbuatan jahat ke sesama manusia melainkan perbuatan semena-mena terhadap alam adalah dosa. Hal ini diperkuat berdasarkan dokumen Laudato Si yang menyatakan bahwa kejahatan kepada alam merupakan dosa atas diri kita sendiri dan dosa kepada Allah.
Kita bisa melihat pada Amsal 3:19-22 yang berbunyi, “(19) Dengan hikmat Tuhan telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit, (20) dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun. (21) Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu”. Dari petikan Injil tersebut, ternyata apa yang dilakukan manusia dewasa ini sangatlah bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan Tuhan. Tidak sedikit yang bersikap apatis terhadap persoalan lingkungan. Manusia bersikap destruktif terhadap alam semesta, salah satunya dengan membuang sampah sembarangan.