Menumbuh-Kembangkan Nilai ‘Community’Ethos Versus Religious Value
Kata Kunci:
keteladanan, community, DiscipleshipAbstrak
Bagaimanakah kita, penggiat pendidikan terutama di Tarakanita, memandang nilai ‘community’, sebagai bagian dari nilai-nilai dalam Cc5, secara lebih riil dalam aktifitas pendidikan? Ketika pertanyaan ini dilontarkan kepada para civitas academica Tarakanita, jawabannya secara umum dapat dikategorikan menjadi dua. Para dosen memandangnya sebagai sebuah nilai keagamaan atau religious value. Yang terkandung dalam istilah religious value tersebut memiliki makna bahwa nilai tersebut harus didoktrinkan kepada para mahasiswa melalui pelbagai cara baik itu melalui pola pendidikan kurikuler maupun ekstra kurikuler. Dalil yang dipergunakan biasanya berkisar pada proses pembentukan insan pembaru yang memiliki nilai mulia atau sejenisnya. Untuk menunjukkan makna doktrinal tersebut, dapatlah secara jelas terlihat dalam dokumen-dokumen kurikuler yang secara eksplisit memuat aspek doktrinal nilai ‘community’ di dalamnya. Kondisi sebaliknya, ketika pertanyaan yang sama dikemukakan kepada mahasiswa, ‘community’ sering dipandang sebagai nilai yang absurd bahkan tak dipahami sama sekali. Mereka beranggapan sebagai ethos, sesuatu yang ada namun samar-samar. Meskipun sebagian besar dari mereka menerimanya sebagai sebuah ethos, nilai ‘community’ masih menjadi sebuah theoretical perspective di sebagian kalangan mereka. Artikel ini lebih menitik-beratkan pada aspek bagaimana nilai ‘community’ yang dipandang sebagai ethos dan religiosu value dipertemukan dalam satu tindakan nyata berbasis nilai-nilai kristiani yang Injili.