Petasan dan Imlek : Dilema Menjaga Tradisi dan Kelestarian Lingkungan Hidup

Penulis

  • Widiastuti STARKI Author

Kata Kunci:

Tahun Baru Imlek, budaya Tionghoa, tradisi, lingkungan hidup, polusi udara

Abstrak

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa yang sarat dengan nilai budaya, sejarah, dan penghormatan kepada leluhur. Berbagai tradisi seperti menyalakan petasan dan kembang api, menghias rumah dengan warna merah, berkumpul bersama keluarga, menyantap hidangan simbolis, serta memberikan angpao memiliki makna filosofis sebagai ungkapan syukur, harapan akan keberuntungan, dan penguatan ikatan kekeluargaan. Di balik nilai budaya tersebut, beberapa tradisi Imlek juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Penggunaan petasan dan kembang api terbukti meningkatkan konsentrasi polutan udara, seperti PM2.5, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, ozon, serta residu logam berat yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Selain itu, konsumsi sirip hiu sebagai simbol kehormatan turut berkontribusi terhadap penurunan populasi hiu secara global dan mengancam keberlanjutan keanekaragaman hayati laut. Melalui berbagai hasil penelitian, tulisan ini menunjukkan bahwa pelestarian tradisi budaya perlu diimbangi dengan kesadaran ekologis agar nilai-nilai luhur perayaan Imlek tetap dapat dipertahankan tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Dengan mengadopsi praktik perayaan yang lebih ramah lingkungan, masyarakat dapat terus merayakan Tahun Baru Imlek sebagai momentum mempererat hubungan keluarga sekaligus mewujudkan tanggung jawab bersama dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Unduhan

Diterbitkan

2023-02-28

Terbitan

Bagian

Articles