Belajar dan Bersyukur di Tengah Keterpurukan
DOI:
https://doi.org/10.36914/tarfo.v1.i2.445Kata Kunci:
belajar, bersyukur, keterpurukan, STARKI, pandemi, COVID-19Abstrak
Pada semester 6, mahasiswa biasanya sudah mempersiapkan segala sesuatu untuk melanjutkan studi di semester berikutnya yaitu, semester 7. Hal ini karena Semester 7 merupakan semester yang penuh dengan persiapan dan proses penjajakan menuju kehidupan baru yang nantinya akan dijalani. Hal ini adalah persiapan bagi seorang mahasiswa untuk dapat memasuki dunia yang lebih luas, ke dunia yang lebih hebat. Banyak mahasiswa yang menunggu-nunggu masa ini karena bisa mengenal orang lebih banyak, bisa belajar hal-hal baru yang belum tentu bisa didapatkan semua orang. Masa untuk bisa membuktikan segala kemampuan yang dipunya, masa untuk bisa membanggakan keluarga teman dan sanak saudara, dan tentunya masa untuk bisa merasakan bagaimana sebenarnya mencari pundi-pundi untuk bisa bertahan hidup tanpa harus bergantung dengan orangtua. Ya..., masa ini adalah masa magang atau bekerja yang dibatasi waktu untuk menjajaki dunia baru, dunia kerja, dunia yang keras dan penuh persaingan. Sangat bersyukur ketika kampus STARKI memberikan kesempatan bagi mahasiswanya untuk mendapatkan pengalaman baru, khususnya di dunia pekerjaan dalam 3 bulan di semester 7. Banyak cerita dari kakak tingkat yang sudah menjalani masa magang. Ketika mendengarnya saja, rasanya sudah seperti merasakan yang sama, rasa yang menyenangkan, lelah, pusing, berkeluh, dan sebagainya. Hal yang sangat ditunggu-tunggu bukan? Namun, untuk tahun ini perasaan tadi belum bisa dipenuhi, belum bisa dinikmati dan dirasakan sepenuhnya, oleh kami Angkatan 2017 karena terhalang pandemi.
Unduhan
Diterbitkan
Terbitan
Bagian
Lisensi

Artikel ini berlisensi Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.